Monday, January 14, 2013

PTD - Sunda Kelapa - Jakarta jaman doeloe 2013


SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:
PLESIRAN TEMPO DOELOE                          
         SOENDA CALAPA/IAJACATRA/BATAVIA/DJAKARTA 



Sebagi rakjat deripada kota Jakarta, jang (kata orang) oemoernja soeda 486 tahon (sedjak tahon 1527, tatkala Fatahillah reboet itoe Soenda Calapa), apatah Toean en Njonja tahoe riwajatnja ini kota?


Sedari masih bernama Soenda Calapa, lantas digantiken dengenIajacatra (Jayakarta), kamodian dibakar oleh kompeni oentoek diberdiriken kota koloniaal Batavia, hingga dirobah namanja digantiken dengen Djakarta, sasoeda Tentara Nippon masoep ke Hindia Belanda atoe negerij Nederland di Tropis pada moela tahon 1942. 

Kitaorang dengen hati seneng bakalan tjeriteraken sedjarah-nja kota Jakarta setjara compleet, sembari kassie liet berbagi gambar en foto-foto keadahannja kota ini sedari masih kosong dan sepi hingga banjak gedong bertjorak Europa dibangoen. Tentoe sadja ditambah riwajatnja monument, kasteel (benteng), spoorweg (dan tram), station, djembatan, museum, kedjadian penting jang perna ada di bilangan Kota Tua Jakarta. Toean en Njonja didjamin betoel tida akan menjesel ikoetan itoe plesiran, sebab-sebab kitaorang soegoehken kwaliteit programma jang djempolan.


Semoea dilakoeken dengen berdjalan kaki, zo sijapken kewarasan badan jang prima en sihat sentausa, dengen route perdjalanan saperti di bawah ini:


(Museum Mandiri/Factorij NHM - Binnennieuwpoortstraat/Jl.Pintu Besar Utara-Hospitaal/zieken huis/Museum BI/Bank Indonesia - Kali Besar - Toko Merah - Portugeesche Binnenkerk/Gereja Portugis dalam kota - Hoenderpasserbrug/Ophalbrug/Julianabrug/Jembatan Kota Intan - Galangan VOC - Westzijdepak-huizen/Goedang VOC/Museum Bahari - Uitkijk Toren/Menara Syahbandar - Poort Batavia/Pelabuhan Sunda Kelapa - bekas locatie Kasteel Batavia  en Kantoor J.P.Coen - Gerbang Amsterdam/Amsterdamschepoort - tempat diketemoekennja Batoe Padrao pada tahon 1522 - Riwajat Trem en Spoorweg di Indonesia en Batavia - Stadhuisplein/Taman Fatahillah - Stadhuis/Museum Fatahillah - riwajat Abel Tasman - Nieuwe Hollandse Kerk/Museum Wayang - kisah wafatnja J.P.Coen - Meriam Si Jagur jang keramat - Monument Pieter Erberveld - locatie tempatnja Souw Beng Kong en J.P.Coen nongkrong dan minoem thee (teh) bareng - bekas locatie Station Batavia Noord (Batavia NIS) en bekas Station Batavia Zuid (Batavia BOS) jang sekarang soeda linjap dan digantiken dengen Station Batavia Benedenstad/Stasiun Jakartakota/Stasiun BEOS, dan tentoe sadja masih banjak tjeritera laennja di sekitaran Kota Tua)


(Snack Pagi & Teh Panas)
(Makan Siang Nyam-Nyam)
(Ijs/Es Selendang Mayang)
(Jalan Kaki keliling Kota Tua)
(Kurang lebih 3 jam lamanya)
(Kumpul mulai jam 07.30 pagi)
(Mulai jalan 08.30-11.30 siang)
(Bisa jadi selesai lebih cepat
semua tergantung dari cerita 
sejarahnya, berapa lamanya
di lokasi ini, dan di lokasi itu)
(Bakalan ada minuman dingin 
di tengah jalan, biar segeeer)
                                                             
                   Minggu, 20 Januari

                Rp.100.000/orang
                (seratus ribu rupiah)
                (kumpul di: Museum Mandiri
                Jakarta Kota) jam 07.30 pagi

                kalo pada mau
                ngedaftar, hub:
                adep@cbn.net.id
                yuk mari, mari...     

Monday, January 7, 2013

Plesiran - Multatuli di Lebak


PLESIRAN TEMPO DOELOE 

MULTATULI di LEBAK


Satoe kisah melegenda jang begitoe dipoedjiken di negerij Belanda, namoen terasa amet "hampa" di tempat kedjadiannja, di Lebak. Kota Rangkas-bitoeng, sebagi locatie dimana tjeritera itoe terjadi, tjoemah abadiken namanja di sala satoe djalan oetamanja, jakni: Jl.Multatuli dan roeang pertemoean:Aula Multatuli. Soenggoe berbeda dengen di Belanda sono, jang roema tempat ia menetap di Amsterdam dirawat betoel, poen didjadiken museum. Dibikin poela patoeng wadjahnja.



Moendoer ke blakang, tahon 1856. Saorang lelaki, seboet sadja namanja: Max Havelaar, tiba di Lebak dan temoeken kelakoean jang tida adil jang diterbitken oleh penggede lokaal jang berkongsi dengen ambtenaar (pedjabat) setempat. Regent (Bupati) dan Resident (Kepatihan) soeda eksploitatie tenaga dan hatsil boemi para pendoedoek setempat. Lebak jang idjo sawahnja nan soeboer, begitoe miskin dan melarat.



Max tjoeba oentoek merobah keadahan, walopoen actie itoe tida disoekai oleh atasannja (Resident, Gouvernuur-Generaal, dan bahkan Radja Belanda, Koning Willem III). Max bertoegas sebagi Assistent-Resident Lebak, en meroepakan "Saoedara Toea" sang Regent. Akan tetapi Regent/Bupati begitoe djahat kepada rakjatnja en teroes menanggoek oentoeng jang banjak.

Kitaorang bakalan bezoekin roemanja Regent/Bupati Lebak jang roemanja sama precies dengen apa jang kita liet di filmnja: "Max Havelaar", lantas berkoendjoeng ke koeboerannja Raden Adipati Kartanata Nagara (jang bole bikin Toean-Njonja bingoeng, sebab itoe makam biasa sadja, tida saperti makamnja petinggi laen jang ada di Noesantara, itoe makam tampilannja sama dengan makam rakjat biasa, ditempatkan diantara makam rakjat oemoem laennja). Masoep ke halaman dalem roemasakit goena koendjoengin itoe roema Max Havelaar, jang dibiarken dalem conditie menjedihkan. Tentoe sadja kitaorang akan berpotret di papan nama Jl.Multatuli !


(Snack Pagi & Teh Panas)

(Makan Siang Nyam-Nyam)
(Cemilan Petang & Minum)
(Naik Bus AC White Horse)
(Bulak-Balik aja dari Pagi hingga Petang)
(mulainya jam 07.00, sampe Jakarta lagi
mungkin jam 18.00 sore hari atau 19.00)


Minggu, 13 Januari 

Rp.250.000/orang (dua ratus lima puluh)

Kumpul di Gedong NHM (Museum Bank Mandiri) Jakarta Kota jam 07.00

kalo pada ngedaftar PTD ini email ke: adep@cbn.net. id
(adep at cbn dot net dot id)

Wednesday, January 2, 2013

Nonton Bareng - Film Max Havelaar


PINTONG singkatan dari Pindah Tongkrongan.
Merupakan program santai dari Sahabat Museum ,
bisa kemana aja, tak harus ke tempat bersejarah.
biasanya diadakan secara mendadak, suka-suka
aja kapan mau digelar, bisa pas mau nonton film
bareng di bioskop ato cuma pengen makan enak.
pokoknya kemana aja deh, terserah penonton :)

Nah ini bulan Januari ini, di awal permulaan tahun,
mari kita saksikan film yang telah lama melegenda,
dan lumayan sulit ditonton, karena sejak pertama
kali beredar di Indonesia sudah dicekal oleh Orde
Baru, malahan mau dibuat "edited & cut version"
namun (katanya) gak jadi, dan akhirnya beredar
juga 11 tahun kemudian (film produksi thn 1976,
dan tayang di Indonesia thn 1987), ketika masa
kontroversialnya sudah lewat. Ah, lama panjang
juga yah penjelasan intronya, mendingan ikutan:

PINTONG: Nonton BarengMax Havelaar
Sabtu, 5 Januari 2013
(malem mingguan nich!)
Jam: 17.30 - 21.30 WIBdi Museum (Bank) Mandiri
(di aula belakang, indoor)
(Perhatikan jadwal acaradi bagian paling bawah!)
Datanglah, Zonder Betalen,
alias GHHHRRAAATTTTIIS :)

--------------------------------------------------------------------

Dan di Minggu depannya, tgl 13 Januari 2013, kita akan samperin lokasi
tempat peristiwa itu terjadi pada tahun 1856. Situs-situs bersejarahnya
sebagian masih ada, Rumah Regent (Bupati) Lebak, Makam Bupati Lebak,
Rumah Max Havelaar (kata orang), dan Jl.Multatuli (nama jalan baru, dan
bukan dari djaman doeloe, untuk mengenang riwayat Multatuli di 
Rangkas-
bitung, Lebak). Itu jalan kita bisa berfoto di depan (bawahnya) itu papan
(plang) nama jalan, niscaya Bapak-Ibu bakalan seneng udah foto di suatu
jalan yg mempunyai nilai sejarah yang tinggi. Nah karena dari novel inilah,
kolonialisasi yang buruk akhirnya "diselesaikan" walaupun gak selesai juga
sampe akhirnya selesai ketika Tentara Jepang menyelesaikannya pada tgl
Maret 1942, kemudian Indonesia Merdeka tahun 1945 !!! Selesai sudah.
 
--------------------------------------------------------------------
 
Max Havelaar, tokoh rekaan Multatuli (nama samarannya Douwes Dekker)
adalah sosok Belanda yang baik dan membela kaum pribumi (boleh dibilang
ini adalah alter ego-nya Douwes Dekker). Kegeramannya atas perilaku para
petinggi kompeni bersama centengnya, sudah bikin hati nurani Max Havelaar
terusik. Ia membela kaum yang tertindas, diperlakukan semena-mena seenak
hati oleh penguasa negeri. Ketika Max Havelaar bertugas di Menado, ia begitu
diharapkan masyarakat yang ingin menuntut keadilan dan mengadu kepadanya.
Mungkin Max merupakan oase di tengah-tengah kekalutan pada masa itu, dan
harapan rakyat kecil di jaman itu, mungkin sama persis dengan harapan Warga
Jakarta saat ini akan hadirnya Jokowi yang dipercaya akan memberikan peruba-
han nasib (pada kota Jakarta yang udah parah akut). Kurang lebihnya demikian.
 
Pada suatu hari Max dipromosikan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda untuk
ditempatkan di Java (Jawa). Kabar itu langsung disambut dengan gembira oleh
istrinya. Namun ketika ditanyakan lebih detil dimana Jawa-nya, Max sambil ter-
senyum berkata "Lebak". Sang istri langsung shock, karena Lebak merupakan
daerah yang gersang. Kenapa gersang dan tidak menarik? Kita akan saksikan
itu semua di film bersejarah ini. Lebak yang ijo royo-royo, sawah yang subur
tapi tidak membuat rakyatnya makmur. Ternyata Regent (Bupati) di Lebak ini
(menurut novel dan filmnya) begitu korup dan berkuasa absolut. Rakyat Lebak
tak ada yang berani melawan, membantah, mencegah ketika kerbaunya mesti
diambil paksa oleh Demang untuk diberikan kepada Bupati. Para pria pun tidak
bisa bekerja di sawah karena mesti "turut membantu" sang Bupati membersih-
kan perkarangan rumahnya dan juga kegiatan Bupati lainnya dengan "sukarela"
 
Upaya Max untuk menegakkan keadilan bagi rakyat pribumi itu, didukung oleh
Gubernur Jenderal, yg mengatakan pada Max: "It's not right that Europe gets
the profit and the natives nothing". "They are people like us". "With the same
abilities and the same destination". "We are not the only ones to blame. "Their
own regents are guilty too". Duuuuhh gimana kelanjutan dari ucapan Gubernur
Jenderal ini? Kita ikutin saja alur filmnya, hingga akhirnya Max.. titik... titik...
(gak boleh dilanjutin lagi yah bocorannya, cukup di sini aja sinopsisnya yah)
(Bapak-Ibu akan menyaksikannya sendiri, apakah cita-cita Max berhasil dan
berjalan lancar, atau terjegal oleh si ini itu atau aturan begini begitu. Entah)
 
Kembali ke soal Jokowi, Max Havelaar pun blusukan ke kampung-kampung dan
melihat langsung segala problema yang terjadi dalam masyarakat yang wilayah-
nya Ia urusin, walaupun ada pemimpin lokal (Bupati/Regent), tapi Max sebagai
Assistent-Resident turut berperan dalam menyejahterahkan rakyatnya, dan itu
sampe harus "menggaji" Bupati pake uang sendiri, karena Ia fikir kalo Bupati itu
dapet duit banyak, maka dia gak akan menyengsarakan rakyatnya dan duitnya
masyarakat gak diambil. Ah, Max Havelaar sudah lama berfikir kalo pejabat di-
gaji gede maka gak akan "main duit" lagi dan fokus bekerja. Namun Max keliru.
 
Max Havelaar menjabat sebagai Assistent-Resident (katanya doeloe Kepatihan)
dan Resident (ah apa pulak ini? tolong dibantu jawab yah) bermukim di Serang.
Kalo Regent adalah Bupati, yang pada waktu itu dijabat oleh Raden Toemeng-
goeng Adipati Kartanata Nagara, dan nanti PTD: Multatuli di Lebak tgl 13 Jan
mendatang kita juga akan mengunjungi makamnya, yang terletak dekat dgn
rumahnya di sekitaran sini-sini juga. Jadi Bapak-Ibu pada mau ikut ke Lebak?
 
--------------------------------------------------------------------
(Semua peserta yang kepengen nonton DIWAJIBKAN mendaftar lewat

email adep@cbn.net.id = adep at cbn dot net dot id, jika tidak, kagak

bakalan diperbolehkan masuk Museum Mandiri. Maap, verboden Tuan!)

(please kirim email dulu sebelomnya, ntar dibales kok, untuk dapatkan

nomer urut keikutsertaan, biar semua nama tercatat dan terdata rapi)

 

(Makanan Ringan, Minuman Panas & Dingin, Pop-Mie tersedia di lokasi

layar tancep, dengan harga yang tidak mencekik leher seperti yg ada

di "Bioskop-Bioskop Kesayangan Anda". Semua harga di bawah ceban)

 

(Disarankan bawa alas buat duduk, apakah itu koran bekas, tiker atau

apa aja biar celana gak kotor, lalu bawa autan juga kalo perlu, senter

jangan lupa dibawa karena ntar pan gelap gitu pas nonton, biar kagak

kesandung atau keselengkat orang laen, duh bahasa gue betawi bgt!)

 

--------------------------------------------------------------------

 

(oh iya letak Museum (Bank) Mandiri ini: kalo naik busway, pas di halte

paling ujung, yaitu Halte Stasiun Kota, pas keluar dari haltenya nih, lgs

nyebrang ke kiri jalan aja, (lewat bawah tanah yah) kalo ke kanan khan
ke Stasiun Jakarta Kota, 
pokoknya keliatan kok gedungnya gede banget
dan di situ juga ada 
plang yang bertuliskan Museum Mandiri (gede juga)

Parkir motor bisa di halaman dalam Museum Mandiri, kalo dari arah Glodok/
Jl.Pintu Besar Selatan, pas di lampu merah (kalo ke kanan ke arah Mangga
Dua). Ambil belok kiri aja, lurus sampe ktemu puter balik di bawah fly-over,
lakukan puter balik, lalu lurus aja ke arah menuju timur (Stasiun Kota) nanti
ketemu pintu masuk ke Museum (Bank) Mandiri yang di bagian belakangnya,
minta tolong saja sama satpam sini untuk masuk ke dalem parkiran museum.

Parkir mobilnya, ada baiknya liwat depan aja, atau di 
Museum Fatahillah sono,
atau di parkiran Bank BNI aja (Parkiran Bank BNI deket Beos, foto lokasi parkir
akan dikirim via email bagi yg mau aja) yg sebelah utara Stasiun Jakartakota.
Areal parkirnya lumayan luas, terbuka 24 jam, ada Satpam yang jagain juga.
Dari parkiran ini tinggal jalan kaki nyebrang ke Museum (Bank) 
Mandiri, boleh
lewat bawah tanah (yg terletak di bagian selatan Stasiun Jakartakota), juga
bisa nyebrang biasa lewat depan Bank Mandiri (di bagian utara Halte Busway).

Cara mencapai parkiran ini: kalo dari arah utara, setelah muter di daerah Jakarta
Kota sono, sebelumnya sampe di Stasiun JakartaKota, ada parkiran di sebelah kiri-
nya jalan, tepatnya setelah Gedung BNI yang besar itu di Jl.Lada yang lewatin be-
lakang Museum Keramik. Gampang kok nyarinya, melipir di kiri jalan aja setelah le-
watin Museum Seni Rupa & Keramik ini. Nanti ketemu ATM BNI, pagernya abis ini.

Sekian dulu pemberitahuan nonton bareng ini, jikalau ada temen, keluarga, kecengan,
gebetan, cem-cem-an yang mau diajak, silahkan aja didaftarin lewat email ini, eh kalo
bisa Jumat malem ini yakh terakhir pada daftarnya, karena kalo Sabtu khawatir panitia
udah pada rempong utk menyiapkan acaranya. Ditoenggoe Kehadiran Para Tetamoe :) 

Memoedjiken dengen hormat,
Ade Purnama (Adep)
SAHABAT MUSEUM

Jakarta-Indonesia
M: 0818 94 96 82
0812 84 27 27 36
Pin BB: 23975CBC
YM id: bang_adep
Email/FB: adep@cbn.net.id
Twitter: @sahabatmuseum
www.sahabatmuseum.org
--------------------------------------------------------------------

Susunan Acara: Nonton Bareng "Max Havelaar"17.30 - 18.00: Pendaftaran Ulang di Museum Mandiri
18.00 - 18.15: Break Sholat Maghrib (ada Mushola)
18.15 - 18.30: Pendaftar yang sudah masuk kuota*
boleh masuk aula, yg Waiting List liet kapasitasnya
terlebih dahulu, kalo masih ada space kosong (jika
ada yg cancel) maka yg di Waiting List bisa masuk)
18.30 - 18.45: Sambutan, Sambutan & Sambutan
18.45 - 21.30: Nonton Bareng film "Max Havelaar"
21.30 - 22.00: Klaar, pada pulang dah semua :)

*kuota bisa 250 - 300 orang, duduk lesehan selama
  2 jam 45 menit (kali-kali aja bisa sekalian slonjoran)

Sunday, August 5, 2012

Kereta Api di Jakarta jaman dulu


  SAHABAT MUSEUM dengan hati seneng presenteren:
PLESIRAN TEMPO DOELOE                          


                                                     SPOORLIJN NIS & BOS


Kota Djakarta doeloenja poenja sedjoemblah operator spoor.

Tida saperti sekarang, jang tjoema satoe sadja, jakni PT.KAI.
Pada djeman koloniaal Belanda, ada operator jang bernama
Nederlandsch-Indische Spoorweg-Maatschappij (NIS), laloe 
Bataviasche Ooster Spoorweg-Maatschappij (BOS); djoega
Staatsspoorwegen (SS) poenja pamerentah Hindia-Belanda, 
jang di kamodian hari-nja beli itoe lijn kereta api NIS & BOS. 

Lijn (djaloer) jang dilajani ada beberapa, ada jang ka koelon
(barat), wetan (timoer), dan ka zuid (selatan). Kitaorang bakal
samperin bekas locatie gedong station kereta api kasatoe di
kota Djakarta jang berada di sekitar bilangan Kota Tua Jakarta,
namoen sekarang stationnja soeda linjap. Tetapi djangan cha-
watier, kitaorang dengen hati seneng akan tjeriteraken riwajat-
nja spoorlijn (djaloer kereta api) di Djakarta, sedari tahon 1871
sampe tahon 1929 tatkala station baroe: Batavia Benedenstad
(jang bekend dengan nama Stasion Be-OS) klaar diberdiriken.

Toean-Njonja akan dikassie liet foto-foto itoe bekas gedongnja
station, nonton film documentairnja, dan jang paling interessant (interesting) adalah: masih ada rail (rel) jang tersisa, dan di hari ini dipake sebagi djembatan, berpondasi rel abad ke-19! jang senantiasa diliwatin orang, sepeda, poela groot-bak (gerobak). Pastinja kitaorang semoea bole indjekin kakinja en liwatin itoe djembatan bersedjarah, seraja berportret-portret hingga poeas. 

(Jalan Kaki di Kota Tua JKT)
(Kolak Pisang-Nangka-Oebi)
(Santapan Nikmat Berbuka Puasa)
(Masoep Halaman Parkir BNI 46/doeloenja ada Station Batavia Noord)
(Masoep Koridor Stasiun Jakartakota/doeloe ada Station Batavia Zuid) 


Saptoe, 11 Agustus 2012

 Rp.60.000/orang (enem puluh ribu)

(kumpul di Museum Bank Mandiri Jakarta Kota jam 15.30
  
kalo pada mau ngedaftar, hub:   adep@cbn.net.id    yuk mari, mari...     

               

                                                   

Thursday, December 22, 2011

Tiang gantungan di Museum Fatahillah

Replika tiang gantungan di Museum Fatahillah, Jakarta.

Tiang gantungan


Tuesday, December 13, 2011

Museum Tekstil

Museum Tekstil dulunya adalah villa seorang warga Perancis yang dibangun pada abad ke-19. Ketika perang Kemerdekaan, gedung ini dijadikan Markas Besar Barisan Keamanan Rakyat (BKR), yang merupakan cikal bakal TNI.

Museum ini memiliki ruang display untuk memamerkan koleksi tekstil Indonesia. Koleksi tekstil tersebut meliputi koleksi museum, koleksi para desainer maupun masyarakat pecinta tekstil.

Tekstil dipamerkan dalam ruang terbuka sehingga pengunjung dapat melihat dan mengeksplorasi koleksi lebih dekat.

Koleksi Museum Tekstil berjumlah 1966 terdiri dari 697 kain batik, 783 kain tenun, 324 tekstil campuran, 101 busana dan tekstil kontemporer. Sedangkan koleksi peralatan berjumlah 101 peralatan.

Selain ruang display, museum Tekstil juga memiliki Galeri Batik. Galeri Batik diresmikan tanggal 2 Oktober 2011 bertepatan dengan pengakuan UNESCO bahwa Batik adalah milik Indonesia. Galeri Batik menampilkan sejumlah batik kuno dan sejumlah batik dari masa ke masa. Tujuan pendirian adalah untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap batik Indonesia.

Lokasi Museum Tekstil

Museum Tekstil terletak di Jl. Aipda KS Tubun no. 2-4, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Cara mencapainya cukup mudah, tetapi lokasi Museum cukup tersembunyi di antara keriuhan pasar Tanah Abang yang merupakan salah satu daerah perdagangan terbesar di Asia Tenggara.

Banyak kendaraan umum yang melewatinya atau paling tidak berhenti di dekat-dekat Tanah Abang. Dahulu, Tanah Abang memiliki terminal bis. Tapi kemudian dihapus, jadi bis, kopaja, metro mini dan mikrolet tidak berkumpul di satu titik, tetapi menyebar di sekitar pasar Tanah Abang.

Mikrolet yang melewatinya adalah mikrolet 08 jurusan Tanah Abang - Kota. Sedangkan angkutan umum yang berhentinya paling dekat dengan Museum Tekstil adalah Kopaja P16 jurusan Tanah Abang - Ciledug. Koasi kuning P102 (nanti saya cek lagi) Tanah Abang - Ciputat. Ada juga bis 916 Kp.Melayu-T.Abang dll. Nomor bis lain menyusul yah, takut salah nomor he he he.

Kalau naik kendaraan pribadi, cari saja arah Tanah Abang. Hampir semua orang tau lokasi Museum ini. Sabar adalah hal yang wajib dimiliki, jika ingin ke museum ini. Memasuki putaran dekat mesjid, antrian mobil, motor yang menyerobot atau melawan arus, troli pembawa gulungan kain dan tumpukan baju lalu lalang di antara orang-orang yang menyeberang seenaknya. Tapi begitu memasuki kompleks Museum ini, segala keletihan menembus kemacetan terbayar sudah. Berada di halaman Museum Tekstil yang luas, sejuk dan rindang serasa berada bukan di Jakarta.